Pengunjung di Kegelapan Pagi


Tok ! Tok! Tok!
Bunyi tanda pesan pendek masuk telephon genggamku sebelum aku mulai dengan bacaan rutinku, kubuka tepat pukul 04.30 “Innalillahi Wainnaillaihiroojiuun, telah meninggal mertua kak Mulyadi pagi ini."
Dug ! dadaku tertumbuk tinju, seakan Malaikat Pencabut Nyawa menonjokan Tinjunya ke ulu hatiku, sambil lalu. Ini berita duka tentang suami sahabat kecilku, teman se kelas di Sekolah Rakyat (SR) puluhan tahun yang lalu, di mana kami mulai belajar mengeja aksara dan menghitung angka-angka. Di mana kami menikmati hari-hari bermain bola kasti, kemudian sama-sama nyebur di kali sebagai ritual suci kami. Indahnya kenangan itu berkelebat melewati jasad membujur kaku, di pelupuk mataku subuh ini.

"Innalillah Wainnaillahiroojiuun," kujawab pesan pendek kepada keluargaku. Seraya menyampaikan rasa bela sungkawa, memberikan keteduhan hati untuk bersabar dan ikhlas menerima musibah ini. Karena sesungguhnya tidak ada satu mahluk hidup pun yang bisa luput dari kematian. Itulah hukum yang telah dipastikan-Nya sejak kehidupan semesta Dia ciptakan.

Sisa subuhku kulanjutkan dengan membaca bait-bait firman-Nya, lebih khusuk dari subuh-subuh sebelumnya, kubaca maknanya, terasa seperti ribuan jarum menusuk-nusuk perasaanku, periiih ….
Betapa terasa semakin kecil diri ini, di hadapan kekuasaan-Nya aku hanyalah manusia papa dan hina, manusia nista dan berlumur dosa. Duh Gusti ….

Tes! Tes! Tes!
Air mataku luruh tidak terbendung, jatuh membasahi bait-bait firman-Nya, melebar buyar dalam kertas muskhaf, membentuk pulau-pulau kecil tak bernama, pulau-pulau kehidupanku yang terserak di mana-mana. Di tanah kelahiranku, di sepanjang jalan, di tempat-tempat pemondokan, di pabrik-pabrik, di kantor-kantor, di hotel-hotel, menelusur, berjalan pelahan, bergesa, berlari, lalu terseok-seok… jatuh luruh di hadapan Sang Pencipta, bersujud memohon ampun dengan isak pedih yang sulit kuhentikan. Duh Gusti ….

Klung ! bunyi pesan masuk di akun facebookku yang sudah online “pagi mom” Dinda Prameswari menyapa pertama “pagi sayang” kujawab seperti biasa “lagi ape mom?” dia kepo seperti biasa, aku jawab “aku baru selesai membaca Novel Allah." Jawaban meluncur begitu saja, yang aku tidak tahu dari mana asalnya, dan mengejutkan diriku sendiri. Bukankah aku baru saja menangis mengutuki diri, dengan sejuta rasa salah dan dosa kepada Nya, tetapi kenapa otak gilaku selalu kambuh tak terkendali, menyebut Al-Quran dengan Novel Allah ? aku gamang, antara dosa dan kegilaan biasa, di manakah aku ? orang gilakah atau pendosakah? Duh Gusti ….

Sudah lama sesungguhnya aku berpikir, bahwa Al-Quran sebagai sebuah Maha Karya Aksara yang luar biasa. Salinan Firman Allah yang dituliskan oleh manusia mulya yang terpelihara; Syaidina Ustman Rodiallahu Anhu, sahabat kekasih Rosul Muhammad Solallahu Allaihi Wassalam. Maha Karya Aksara yang dijadikan pedoman hidup penuntun umat manusia untuk menuju kehidupan yang benar dalam meraih kehidupan terbaik, termulya, penuh makna, bermartabat dan bermanfaat di dunia sampai akhirat. 

Penyebutan gilaku atas Al-Quran sebagi novel, sesungguhnya hanya upaya memotivasi diri agar aku mau membaca dan mempelajarinya dengan suka rela, dengan senang hati, berjam-jam tafakur membaca dan memaknainya untuk bisa memberi arti dan mewarnai hidup dengan lebih beradab. Seperti tersihir dan terhipnotisnya aku ketika membaca puisinya Dani Satata dan Dinda Prameswari, yang sama sekali tidak sekufu dengan Al-Quran. Atau terhanyutnya aku ketika membaca novel Antony Queen yang bercerita tentang detektif hebat, kemudian membuat aku seolah-olah jadi detektif hebat juga. Dan novel itu pun tidak akan pernah sederajat dengan Al-Quran.

Hmmm ... andaikan saja Dani Satata dan Dinda Prameswari menemukan cara untuk menggubah karya sastra yang lebih membakar, yang dapat mengejawantahkan bait-bait firman-Nya menjadi bahasa keseharian, memperkenalkan sentakan malalaikat pencabut nyawa sebagai sesuatu yang nyata dalam pikiran semesta, memperdengarkan jeritan kesakitan para pesakitan neraka jahanam, begitu dekat dengan telinga, kepala dan mata hati penggumam aksara. Menjerat para penjahat social, penjahat kemanusiaan, perampok harta rakyat, penjahat kelamin, pezina dan pemerkosa dalam gumaman mengerikan pemakna aksara. Andai saja itu semua bisa membangunkan semesta dari mimpi buruk kejahatan durjana, kenapa tidak ?

Melolong dengan keluh kesah atau hujatan sangatlah melahkan, toh tidak akan bisa membuat para durjana menghentikan ulahnya. Tetapi jika susunan balok-balok aksara, jadi pembakar kesadaran sekaligus penyejuk kemarahan, bukankah engkau para penggiat aksara, para pecinta Sastra Indonesia adalah penjaga hati semesta yang digjaya ?


Tangerang, 26 Desember 2014 08.30 ibt

Tidak ada komentar: