ANDA ATAU ORANG LAIN YANG AKAN BERHASIL?







Saat anda mengagumi sebuah maha karya orang lain yang bagus, misalnya miliknya Kahlil Gibran dengan Sayap-Sayap Patah yang mendunia itu, maka seharusnya nilai positiflah yang harus anda ambil untuk memotivasi diri anda sendiri.

1. Apa motivasi anda saat memulai?
Anda harus tanyakan pada diri anda sendiri, apa yang membuat anda melakukan ini, (misalnya menulis puisi) maka jawablah dengan jujur motivasinya apa? Apakah iseng, biar dipuji kekasih ataukan pelampiasan? atau ada hal lain?

2. Kegagalan membuat anda ragu
Percayalah bahwa anda tercipta sebagai manusia yang multi talenta, anda bisa melakukan apa yang anda mau, namun ingatlah, bahwa tidak semua kemauan anda akan sesuai harapan anda.
Contoh:
Dalam teori anda membayangkan naik sepeda itu mudah, namun kenyataannya saat mulai belajar naik sepeda anda terjatuh, jika kemudian anda kapok dan takut mencoba lagi maka selamanya anda tidak akan bisa naik sepeda.

3. Masa depan anda ditentukan oleh masa kini
Anda akan menjadi apa atau akan menjadi seperti siapa nantinya, itu tergantung apa yang anda usahakan hari ini.
Contoh: Jika anda ingin menjadi bidan, maka bersekolahlah dijurusan kebidanan, bukan bersekolah di jurusan tata boga. Atau jika anda ingin seperti Kahlil Gibran atau Andrea Hirata maka dimulai dari sekarang, mulailah menulis, tunggu apa lagi!

4. Jangan ratapi kegagalan, tapi ambil hikmahnya
Jika saat ini anda merasa gagal, jangan menjadikan diri anda selesai, terjatuh, tersungkur, lemah tak berdaya atau bahkan mati, tapi ambil hikmah dari setiap kegagalan, evaluasi diri anda sendiri, kenapa bisa gagal? Kurangnya di mana? Apa yang sebaiknya dilakukan? Lalu bangkitlah, coba lagi dan lagi.

5. Jangan pernah menyerah
Jika anda sudah melakukan semua hal yang di atas namun keberhasilan rasanya masih jauh dari diri anda, jangan sekali-kali menyerah, namun yang sebaiknya anda lakukan adalah, belajar lagi, cari guru lagi, buka wawasan lagi, bergaulah dengan orang-oarang yang anda anggap sukses pada bidang yang anda inginkan, lalu bangkit lagi, mencoba lagi, sampai anda bisa!
Ingat, Burung beo saja bisa ucapkan "selamat pagi" setelah dilatih berminggu-minggu
Ingat, cara pembuatan pedang adalah besi yang ditempa oleh bara api yang sangat panas, dan pedang bisa tajam setelah diasah berulang-kali.

6. Selalu berfikiran positif
Siapakah yang ingin sukses? Anda, ataukah orang lain?
Untuk anda semuanya yang ingin sukses, belajar sukses atau yang sudah sukses, salam hangat dariku, semoga selalu bahagia


Semarang, 27 Januari 2015

Menangkap Ikan Kakek


Gubrakkk!
Sepotong alu kayu melayang nabrak dinding papan nyaris mengenai kepala seorang anak gadis berusia 6 tahun yang tengah bermain dengan 2 orang saudara laki-lakinya. Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun kakaknya dan satu lagi anak laki-laki berusia 4 tahun adiknya. Mereka tengah asik bermain petak umpet, sambil berlari-lari, teriak-teriak dan tertawa-tawa suaranya memekakan telinga. Sementara ibunya sedang menumbuk padi di dapur. Seketika suara hening, tiga anak kecil saling berpandangan dengan muka pucat karena shock.

"Wah ibu marah, hayu kita pergi...kita mainnya di luar saja" Aa Idam memecah kesunyian, tanpa berkata apa-apa Nelma dan Yan mengikuti kakaknya pergi ke luar, karena dua anak kecil ini masih dag dig dug jantungnya belum reda dari rasa kaget dan takut dengan murka ibunya.

"Aa Idam kita mau ke mana?" Yan bertanya setelah berjarak 50 meter dari rumahnya "kita main di halaman rumah Kakek saja ya" Aa Idam menjawab pertanyaan Yan..."kita mau main petak umpet lagi ya Aa Idam?" Aa Idam masih bungkam, karena dia belum tahu adik-adiknya mau diajak bermain apa.

"Assalamu'alaikum" Aa Idam memberi salam setelah tiba di rumah Kakek..."Wa'alaikumsallam" suara Nenek memnjawab dari dalam dapur "siapa itu?" suara Nenek masih di dalam dan belum membukakan pintu "Idam sama Nelma dan Yan Nek" Aa Idam menjawab..."ada apa Idam? Kakek tidak ada di rumah" Nenek bertanya sambil membuka pintu dan wajahnya menyembul dari balik pintu.

"Idam sama adik-adik boleh main di sini Nek?" Idam bertanya untuk minta ijin bermain di halaman rumah Kakeknya "boleh, tapi jangan berisik ya Bibi kecilnya lagi bobo" Bibi kecil itu anak Nenek dan Kakek yang baru berusia 1 tahun. Biasanya mudah terbangun kalau mendengar suara ribut sedikit saja. "Iya Nek kami janji tidak akan ribut" Aa Idam menyanggupi permintaan Neneknya. Maka bermainlah tiga kakak beradik itu, berlari-larian kian kemari sambil tidak henti-hentinya berteriak dan tertawa-tawa. Namanya anak-anak bermain sulit untuk tidak bertingkah seperti itu. Tak ayal lagi suara mereka telah membuat Bibi kecil terbangun dari tidurnya "woaaaaaaaa...woaaaaa" jeritnya membuat Nenek setengah berlari menghampirinya ke dalam kamar. Tiba-tiba Aa Idam meletakan telunjuk di bibirnya, memberi isarat kepada kedua adiknya untuk diam.

"Hayu kita lari sebelum diomelin Nenek" ajak Aa Idam kepada kedua adiknya..."kita mau kemana lagi Aa Idam" Nelma memberanikan diri bertanya dengan berbisik "sstt...hayu" kata Aa Idam sambil berlari menyeret kedua adiknya untuk mengikuti. Mereka terus berlari sampai tiba di sebuah saung di pesawahan dekat kampung. 

Yan adiknya yang paling kecil langsung ngeglosor begitu sampai di saung sambil terengah-engah "capek Aa Idam, Yan lapaarr" Yan merengek setengah menangis "iya entar kita pulang kalau ibu sudah selesai numbuk padinya, kita makan di rumah ya" Idam membujuk adiknya "sekarang kita nyari ikan dulu aja yuuk"..."di mana nyarinya Aa Idam?" kali ini Nelma yang bertanya "tuh di sawah Kakek" Idam menunjuk ke arah sawah yang hanya berjarak 20 meter dari saung tempat mereka duduk ngaso, selepas melarikan diri dari ancaman omelan Neneknya.
**
"Nelma yang turun menangkap ikan ya, Aa Idam yang pegang tali untuk merinjing ikannya dan Yan yang mengawasi keadaan, jangan sampai Kakek datang kita tidak tahu" demikian Aa Idam membagikan tugas kepada adik-adiknya. "Yan di sebelah sana, nanti kalau melihat Kakek berjalan ke arah sini teriak lariii! ya Yan" Aa Idam menunjukan arah di mana Yan harus berdiri dan memberitahukan apa yang harus dilakukannya ketika melihat Kakeknya datang,

Cruk! cruk! cruk! suara air yang tersibak tangan mungil Nelma yang terus merogoh ikan-ikan yang berlarian takut tertangkap, "huff! horeeee" jerit bahagia Nelma sambil mengacungkan seekor ikan yang menggelepar di tangannya "Aa Idam nih dapat" Nelma berteriak kepada kakaknya yang menghampiri dengan wajah bungah. Lalu mengambil ikan dari tangan Nelma dan memasukan tali dari pohon alang-alang ke dalam insang ikan untuk merinjingnya. Tiga ekor ikan berpindah tangan sudah, ada dalam rinjingan yang ditenteng Aa Idam, sementara Nelma terus melakukan penangkapan dengan asik dan senang, sambil berkecipak main air.

"Huff! kena kamu" tiba-tiba ada tangan besar dan kuat mencengkram pundaknya, Nelma kaget dan menoleh ke arah pemilik tangan kokoh itu "Kakeeeeek!" Nelma teriak panik dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan kakeknya, apa daya dia tidak kuat melepaskan cengkraman Kakeknya. Mata Nelma nanar liar menyapau sekeliling sawah, mencari bayangan Aa Idam dan Yan "duh! mereka sudah raib" batin Nelma putus asa.

"Kakek maafkan Nelma, lepaskan Nelma mau pulang, entar dicari Ibu" suara Nelma memelas minta dilepaskan dari pegangan Kakeknya "tidak bisa kamu harus Kakek hukum, karena telah menangkap ikan tanpa ijin" Kakek membentak sambil melotot ke arah Nelma "tadi Aa Idam yang suruh Kek, Yan pengen makan, di rumah tidak ada ikan" jawab Nelma dengan muka memelas "harusnya minta ijin dulu pada Kakek sebelum mengambilnya, ini namanya mencuri...kamu tahu apa hukuman untuk pencuri?" mendengar hukuman Nelma kaget, hatinya bergetar, membayangkan Kakeknya yang suka mengikat kedua tangan pencuri dan ditaruh di punggungnya, lalu diarak penduduk untuk diserahkan ke Bale Desa. Hiyyyy bergidik hati Nelma.
**
"Nelma janji ya! kamu tidak akan menangkap ikan Kakek lagi sebelum minta ijin" Kakek meminta Nelma berjanji dan mohon ampun pada Allah "siap Kek!" jawab Nelma sambil memalangkan telapak tangannya di kening seperti menghormat komandan "hahahaha, tuk!" Kakek terbahak sambil ngejitak jidat Nelma yang penuh lumpur.

Nelma mengendap-endap menyelinap menuju pancuran di belakang dapurnya, dia khawatir diperegoki ibunya. Dia sudah membayangkan akan dapat cubitan bertubi-tubi di perut dan di pahanya kalau ibu melihat wajah dan seluruh tubuhnya penuh dengan lumpur sawah. Sebenarnya sih lucu kalau melihat tampang Nelma setelah menerima hukuman dari Kakek. Seluruh tubuhnya diteploki dengan lumpur sawah, terlihat asri seperti patung Malinkundang, hanya matanya yang terlihat ketap-ketip hahaha. Nelma tidak menangis ketika menerima hukum kutukan sawah dari Kakeknya. Dia malah tertawa-tawa dan bercanda dengan Kakeknya, kejar-kejaran main lumpur sawah. Nelma kini sudah mandi dan berganti baju beresih. Ibu sudah selesai numbuk padi, bahkan berasnya sudah berubah jadi nasi panas yang sudah siap tersaji empat piring, lengkap dengan ikan emas goreng hasil tangkapan Nelma.

"Hayu kita makan" ibu mengajak makan Idam, Nelma dan Yan "Aa Idam pimpin baca do'a dulu" kata Ibu. Sebelum makan seperti biasa Aa Idam memimpin do'a "Allahummabariklana Fimaarozaktanaa Wakinna Adzabannaar, aamiin". 

Tiga adik kakak ini makan dengan lahap. Ibu memandangi ketiganya dengan bahagia, tanpa mengetahui apa yang terjadi dengan anak-anaknya beberapa jam yang lalu. "Jika saja Ibu tahu apa yang aku lakukan tadi di sawah, hmmm pasti perut dan pahaku sudah bentol-bentol merah bekas cubitan yang dipelintir" Nelma bergumam sambil senyum-senyum....

TAMAT 


Citra Raya, 6 Pebruari 2015
Kisah dari anak-anak masa lalu

Cemburu


"Terus aja peluk tuh laptop atau nungkluk di depan komputer, siang malam hanya ada Komputer, Dendang dan ‪#‎Dinda‬, hidup kita sudah tidak seperti dulu lagi, ada cerita ada canda" begitu celoteh Tiwul suatu pagi kepadaku dengan tampangnya yang asem dan merengut. Aku hanya menatapnya dan tersenyum manis hihihi

"Iya tuh uwa sekarang sudah tidak mau nemenin aku belajar lagi, tidak kaya dulu. Kerjanya hanya tertawa-tawa sendiri aja di depan komputer, setiap saat hanya ada tante #Dinda, kita udah nggak dianggap lagi tante" ponakanku menyiramkan sedikit pertamax ke ubun-ubun Tiwul, hahahahaha *kali ini aku ngakak.

"Awas ya bulan ini aku nggak mau bayarin tagihan Kartu Hallo modemnya, biar mama tahu rasa, biarin mau apa coba kalau jaringan internetnya nggak ada" Tiwul mulai melancarkan ancamannya "waduh!" jawabku sambil melongo memandangi Tiwul, kali ini bibirnya sudah mancung melebihi hidungnya, itu pertanda dia serius..."mama sadar nggak sih kalau badannya sekarang jadi kurus, itu karena kebanyakan begadang" Tiwul menatapku dengan telaga bening matanya "duh kamu lebay!" hanya itu yang keluar dari mulutku...

Istanaku indah dan selalu damai, dan itu sudah berlangsung selama 14 tahun. Tiwul anak idiologisku yang tidak pernah absen sedetikpun dari kehidupanku, selalu setia menemaniku dalam segala situasi dan kondisi. Dalam pekerjaan dia implementator gagasan-gagasan yang selalu bermunculan dari sela-sela rambutku. Sekaligus yang selalu mengingatkan dan menghindarkan aku dari segala bahaya yang mengancam posisiku. Istanaku tambah semarak ketika seorang gadis lucu--ponakanku ikut bersamaku, meski kami dalam keadaan yang tidak baik secara financial, namun tidak pernah kehilangan kebahagiaan.

"Tiwul dan Ruhay semoga besok kalian mengerti, bahwa aku tidak pernah berubah sedikit pun. Tapi aku juga perlu ruang khusus untuk memenuhi kebutuhan energiku, di mana hari-hari bisa kujalani dengan normal, tanpa merasa kehilangan jati diri. Maka tolong jangan kalian buktikan ancamannya, karena kalau tidak...ruang khusus itu tidak bisa lagi aku kunjungi, dan aku akan kehilangan energi... hanya untuk sedikit waktu saja pliiiss...kumohon"

"Jangan cemburui aku...tidak akan ada yang hilang, yang ada harusnya bertambah sahabat, kerabat, kawan dan saudara...kita semuanya sama hanya semesta fana".


Citra Raya, 8 Pebruari 2015 pukul 04.06 wib

untuk yang selalu lengket di langit-langit hatiku Siti Istikharoh dan Ayu Solihatu R

Rehan dan Burung beo


Rehan anak usia 7 tahun tapi sudah sekolah kelas dua SD. Anak ini suka usil mengganggu kawan-kawannya. Bahkan ketika diberi tugas di sekolah oleh gurunya, alih-alih mengerjakan tugasnya dia lebih suka mengganggu dan mennertawakan hasil pekerjaan kawan-kawannya. Gurunya sudah mati gaya menghadapi kelakuan Rehan ini.

"Bu Wina minta tolong dibantu menasihati Rehan di rumah ya," suatu hari Bu Linda menyampaikan permintaannya kepada Bu Wina, mamanya Rehan. "Ada apa dengan anak saya Rehan, Bu Linda?" Ujar Bu Wina. Kemudian Bu Linda menceritakan seluruh kelakuan Rehan di sekolah kepada Bu Wina. Bu Wina memperhatikan seluruh cerita guru kelas Rehan dengan seksama. Kemudian berjanji kepada Bu Linda untuk menasehati Rehan di rumah.

Dalam perjalanan pulang Bu Wina berpikir keras tentang bagaimana caranya menasehati Rehan agar mengubah sikap usilnya itu menjadi sikap yang baik. Karena kalau dibiarkan begitu terus akan merugikan dia sendiri. Rehan tipe anak yang sulit dinasehati. Dia akan pura-pura mengalihkan pembicaraan, pura-pura tidak mendengar dan yang paling parah dia akan pergi meninggalkan Bu Wina ngomong sendirian, seperti yang sudah-sudah.

"Aha!" tiba-tiba Bu Wina memekik kegirangan, seperti menemukan ide cemerlang untuk menghadapi tingkah Rehan.

**
"Assalamu'alaikum!" suara Rehan menyentak kesunyian ruang tamu rumah Bu Wina pada pukul 1 siang ,"mama aku pulang!" teriak Rehan.


"Wa'alaikumsallam, Rehan, mama di sini," jawab Bu Wina dari arah dapur. Rehan menghampiri suara itu kemudian meraih tangan kanan mamanya lalu menciuminya bolak-balik seperti biasa.

"Masak apa, Ma?" Rehan melongok semua panci-panci di atas kompor, "Rehan laper," katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari panci yang berisi opor ayam kesukaannya. "Udah ganti baju dulu ke sana, simpan tasnya baru kita makan biar mama siapkan dulu di meja makan." 

Tanpa menunggu perintah dua kali Rehan sudah menghilang dari pandangan ibunya. "Hmm, pasti gara-gara opor ayam nih dia jadi manis begini, biasanya kalau belum diteriaki tiga kali belum mau ganti baju," gumam Bu Wina.

Selesai makan Bu Wina ngajak anaknya duduk-duduk di ruang keluarga, sambil istirahat. "Rehan tadi di sekolah ada tugas apa?" tiba-tiba Bu Wina bertanya kepada anaknya. Sebelum menjawab pertanyaan ibunya, Rehan menatap mata ibunya penuh selidik.

"Hei anak mama kok melamun?" sambung Bu Wina.

"Eh-eh ya, Ma ... apa tadi?" tanya Rehan gagap.

"Tadi di sekolah ada tugas apa?" Bu Wina mengulang pertanyaannya kepada Rehan.

"Ehmm anu Ma ... i-i-iya, kenapa sih tanya-tanya, Ma?" Rehan semakin curiga sama ibunya.

"Gak mama cuman pengen tahu aja. Kamu mengerjakan tugasnya gak?" kejar Bu Wina

"e-ehh anu, Ma, aku mau mengerjakan PR dulu ya." Rehan berusaha untuk mengelak

"Hmm pasti kamu tidak mengerjakan tugas, terus gangguin kawan-kawanmu, gitu ya?" Rehan diam menunduk. 

"Ya sudah kalau mau mengerjakan PR, ntar sore kita cerita lagi. Mama punya dongeng bagus untuk kamu." Mendengar kata dongeng Rehan langsung memekik gembira.
 
"Bener, Ma? Ada dongeng untukku nanti sore?" Wajahnya cerah dengan matanya terbuka lebar

"Iya serius, tapi kamu kerjakan PR dulu dengan benar ya," ibunya meyakinkan.

"Beres Ma, tenang pokoknya aku pastikan besok PR-ku nilainya 100."

**
Sore hari di beranda rumah, Bu Wina dan Rehan asik berdua.

"Rehan kamu tahu kan Burung beo?" tanya Bu Wina

"Tahu Ma, emang kenapa?" jawab Rehan tangkas.

"Kamu tahu gak kenapa burung beo bisa menirukan suara-suara?"

"Gak, emang kenapa, Ma, beo bisa menirukan suara-suara?" Rehan mulai penasaran

"Nah itu yang akan mama ceritakan untuk kamu sore ini, tentang mengapa burung beo bisa menirukan suara. Kamu siap mendengarkan?" tanya Bu Wina pada anaknya.

"Siap Ma!" jawab Rehan

"Cerita ini mama dapatkan dari Kek Jamil, guru mama, dengarkan baik-baik ya."

**
Dahulu kala … sebelum ada manusia, hewan-hewan bicara dengan bahasa yang saat ini dipergunakan manusia. Lalu pada suatu hari, Sang Pencipta menciptakan manusia. Sang Pencipta kemudian mengutus peri penjaga hutan untuk memberitahukan hal itu kepada para hewan. Isi pemberitahuannya adalah agar para penghuni hutan tidak boleh lagi berbicara dengan menggunakan bahasa yang selama ini mereka gunakan.
Sebagai pengganti, mereka diizinkan untuk menciptakan bahasa mereka masing-masing dalam waktu seminggu. Maka, pulanglah penduduk hutan ke tempat masing-masing. Mereka mulai berpikir keras untuk mencari suara yang gagah dan cocok untuk mereka masing-masing.

Hari demi hari, penduduk hutan sibuk mencari-cari suara yang nanti akan mereka pakai. Singa yang telah dinobatkan sebagai raja hutan, lebih dahulu memilih suara mengaum. "Aouuuumm!!!" katanya dengan gagah. Penduduk hutan yang lain senang mendengarnya. Mereka merasa suara itu pas benar dengan bentuk tubuh singa yang gagah.

Tapi, tidak semua hewan senang mendengarnya. Burung beo yang usil malah menertawakan suara itu. "Hahahaha..., mirip orang sakit gigi," celetuk beo sambil tertawa terbahak-bahak. Singa sangat malu mendengarnya. Semua suara binatang yang ada selalu dikomentari dan dihina oleh beo. Beo hanya menjadi komentator dan menertawakan semua suara hewan.

Tak terasa sudah satu minggu. Penduduk hutan berkumpul kembali untuk mengumumkan suara yang mereka pilih. Peri penjaga hutan memanggil mereka satu persatu. Di antara semuanya, hanya beo yang masih tertawa-tawa. Ia pikir teman-temannya bodoh karena suara yang mereka pilih lucu-lucu.

Tibalah giliran Beo untuk mengumumkan suara barunya. Ia maju ke depan. "Mbeeeek!” jeritnya. "Hei itu suaraku!" kata Kambing. Yang lain pun tertawa. Beo tertegun. Ia baru sadar, selama ini ia terlalu sibuk mengejek teman-temannya sehingga lupa mencari suaranya sendiri. Semua suara yang dikeluarkan beo ternyata sudah menjadi milik binatang lain. Akhirnya, ia menangis tersedu-sedu.

"Sudahlah, kamu akan tetap kuberi sebuah suara. Tapi sebagai pelajaran, kau akan tetap menirukan suara orang, sehingga kau akan ditertawakan selamanya," kata peri penjaga hutan sambil tersenyum.

**
"Begitu ceritanya Rehan, mengapa burung beo selalu menirukan suara orang dan menjadi bahan tertawaan." Rehan hanya diam tertunduk tidak bicara sepatah katapun. Tidak seperti biasanya setiap kali ibunya mengakhiri dongeng, selalu saja ada yang ditanyakan, kenapa ini begini? Kenapa itu begitu? Kali ini Rehan benar-benar diam seribu bahasa.

"Maafkan Rehan Mama, selama ini berbohong sama Mama soal tugas di sekolah itu. Rehan emang gak suka mengerjakan tugas dan selalu gangguin kawan-kawan. Rehan sering dimarahi Bu Linda karena itu. Sekarang Rehan berjanji tidak akan nakal lagi dan akan selalu mengerjakan tugas dari guru di sekolah." 

Rehan meraih tangan kanan Bu Wina sambil menciuminya bolak-balik.
"Alhamdulillah," sahut Bu Wina sambil memeluk Rehan dengan penuh kasih dan berlinang air mata haru.


TAMAT
Citra Raya, 28 Januari 2015

Untuk Kau yang Selalu Hadir Dalam Hatiku



Dih….

Malam ini telah larut, aku membayangkan dirimu sedang terlelap tidur dengan mimpi-mimpi indahmu. Di sini aku masih terjaga dengan beberapa kenangan indah bersamamu, ketika kita masih tinggal dalam satu kota…ada nasi goreng  tengah malam, ada mie instant yang diseduh dan ada kebahagiaan….


Malam ini tiba-tiba hatiku terasa begitu perih…disayat kerinduan yang selalu kusabar-sabarkan setiap saat. Kerinduan akan dirimu selalu membuat aku sedih dan putus asa….

Seringkali aku bertanya, kenapa hanya kamu yang sering membuat aku rindu…? Padahal aku tahu kamu tidak pernah memikirkan aku.

Aku lari dari kota kita karena ingin mengubur dan melupakan segala yang pernah ada di antara kita. Tetapi semakin aku berusaha melupakanmu, semakin terasa sakit kerinduan mendera dan menyiksa batinku….

Aku putus asa, ke mana lagi aku harus berlari untuk mencari diriku sendiri, diriku yang tidak pernah dikenali, diriku yang tidak pernah diperdulikan, diriku yang dilupakan oleh semua orang….


Aku lelah…aku ingin berhenti, aku ingin menghadapi kenyataan diri apa adanya, meskipun teramat menyakitkan. Tetapi mampukah mereka menerima diriku begini adanya…? Dan juga kamu, bersediakah mengerti dan memahami apa adanya aku…? Betapa berat teka teki diri ini harus kubawa, kucari jawabannya …begitu sakit dan membingungkannya kehidupan untukku.
 

Seringkali aku menyesali diri, kenapa aku mesti lahir dan hidup…? Seringkali aku bertanya-tanya…apakah Tuhan tidak tahu betapa aku tersiksa dan sakit menanggung beban ini…? Ataukah dosaku sudah terlalu banyak, hingga Tuhan melupakan aku…?

Tetapi siapa yang bersalah kalau aku jadi begini…? Hidup tanpa identitas diri….

Aku tidak tahu siapa yang menghendaki aku lahir…? Aku tidak tahu atas kehendak siapa aku hidup tidak jelas juntrungannya….?

Aku tidak tahu, semua terjadi di luar keinginanku…rasanya sudah berlangsung begitu lama…bertahun-tahun, sepanjang perjalananku hingga hari ini.


Bahagianya hatiku, andai saja aku bisa menikmati hidup yang wajar. Bahagianya aku jika saja aku tahu dan dapat merasakan bahwa ada orang lain yang menyayangi dan memikirkan hidupku….

Setiap aku memikirkan itu, selalu saja kamu yang ada dalam hati dan pikiranku. Setiap kali begitu…kerinduan akan dirimu terasa begitu menyakitkan dan membuat aku putus asa….


Bila aku mencintai dan menyangi dirimu, bukankah itu juga kenyataan yang harus diterima…? Walau itu absurd dan mustahil. Jika semua orang membenci diriku lantaran mereka tahu, bahwa aku mencintaimu…apakah aku harus mengalah dan lari dari kenyataan ini...? Lalu kemana aku harus lari…? Di mana tempatku…? 


Apakah aku terlahir dan hidup hanya untuk menjadi orang yang tersisihkan…? Lantaran aku mencintai orang yang seharusnya tidak aku cintai dengan cara seperti engkau mencintai kekasihmu….

Betapa pahit dan tidak adilnya hidup untukku….




Tangerang, 29 Oktober 1991 02.00 wib

*Kisah sepenggal perjalanan hidup dalam sebuah buku harian seorang anak manusia


Teruntuk_Bunda_Lilis‬ ‪

By : Rohma Nia


Bunda
Separuh abad lebih usia nadimu
Berpacu, menapaki waktu
Merasai pahit manis kehidupan
Melukis kemapanan bersikap

Bun
Teringat awal kita saling bersapa
Hangat sapamu cairkan suasana
Tanpa canggung kau bercanda ria
Humoris lagi bijak, itulah dirimu
 
Bun
Anggunnya caramu bersikap, buatku belajar
Berkaca diri, membuka pikiran
Bilakah hidup selalu ada bahagia menunggu
Hanya saja, terkadang kita yang tak mengijinkan ia menyapa

Bun
Aku, Bunda seperti satu keluarga
Saling menyatu dalam hangatnya baluran dendang sastra
Semoga abadi hingga akhir titik nadi
Meski kita tak saling bersua, tapi kita saling menyatu.

Jpr, 20012015