KETIKA ADA YANG BERTANYA..........................

Disela-sela obrolan ngalor ngidul, selepas pertemuan dengan STIFIn Kabupaten Tangerang, ada yang bertanya "bu bagaimana caranya menulis?" menulis itu prinsipnya menuangkan apa yang kita pikirkan dan kita rasakan, agar dibaca orang lain. Biar orang tidak mubazir ketika membaca tulisan kita, maka sebaiknya sisipkan pesan moral kita untuk si pembaca. oleh karena itu, penting seseorang memiliki motivasi yang positif ketika hendak menuangkan buah pikiran dan perasaannya ke dalam bentuk tulisan yang dipublish.

Blog pribadi, adalah media yang cukup aman dan efektif untuk belajar membiasakan menulis. Kecakapan kita dalam menuangkan pikiran dan perasaan ke dalam bentuk tulisan, akan terasah dengan baik kalau kita semakin biasa melakukannya. Paling sedikit membuat satu tulisan setiap hari.

Hal penting lainnya yang akan membantu kita meningkatkan kemampuan menulis adalah banyak membaca, buku apa pun atau situasi apapun yang ada di sekitar kita. Dengan banyak membaca buku, kita akan semakin kaya perbendaharaan kata. Dengan banyak membaca situasi dan fenomena di sekeliling, kita akan kaya inspirasi. 

Tulislah apapun yang kita pikirkan dan kita rasakan baik, untuk mencerahkan diri kita dan juga orang-orang disekeliling kita. Dengan cara menulis, kita juga bisa saling berbagi dengan saudara-saudara kita yang lain.

Nah..............silahkan mencobanya sekarang hehehehe

Salam "MoveON" dari sahabat maya

Tangerang, 19 Agustus 2013

SATU HARI SETELAH KEMERDEKAAN RI

Ku buka jendela rumah ku, untuk membaui aroma tanah, setelah diguyur air hujan semalam. Semilir angin masuk menembus ruangan tamu, rumah ku yang mungil ukuran 21/54 RS, yang sudah ku lunasi, 4 tahun setelah akad kredit hehehehe.

Rasa nyaman dan lega menyeruak memasuki relung kalbu ku, ahhhhh inilah rasanya merdeka. Tiba-tiba aku ingin sekali nyeruput kopi dan memakan sepotong roti. Roti dan kopi ini menurut kakek buyut ku, jaman dahulu menjadi menu sarapan para serdadu Belanda. Aku ingat dulu kakek buyut bercerita, sambil minum teh hangat di pagi hari, dengan rebus singkong, ditaburi parutan kelapa agak muda. Dengan bangga dia cerita pada kami, bahwa setiap pagi dia dan kawan-kawannya menyantap singkong rebus dengan gula aren yang dicairkan, ditaburi parutan kelapa agak muda, yang disuguhkan "Dapur Umum" grilyawan perang. Siangnya kami manggul bambu runcing, keliling perkampungan, menjaga penduduk dari serangan musuh. Jadi kalian harus tahu, bahwa untuk memerdekakan negeri ini, kami hanya sarapan singkong rebus dan teh hangat dengan gula aren, yang kami buat sendiri, menjelaskan sambil terkekeh hehehehehe.

Begitu cara kakek buyut ku untuk membuat cucu dan cicitnya tetap mencintai makanan khas karuhun, yang memang wuenak banget. Kalau pagi ini ternyata aku minum kopi luwak dengan roti lengkap, campur mentega dan coklat mesis, bukan berarti aku berpaling dari makanan tradisi karuhun ku. Melainkan karena makanan tradisional karuhun sudah agak sulit didapat saat ini. Bukan lantaran punah bahan bakunya, tetapi karena mulai punahnya tradisi, mulai terkikisnya kecintaan terhadap makanan tradisi. Perkembangan jaman, industrialisasi menuntun pikiran kita menjadi instan, menjadi ingin serba cepat. Maka inilah yang mudah didapat dan mudah disantap, tanpa harus melakukan proses merebus, memarut dan mencairkan gula aren.

Roti tawar tanpa kulit kubeli kemaren sore di Indomart, plus blue band margarine, coklat mesis dan kopi luwak yang kusantap di pagi hari (sarapan ala Belanda) kata kakek buyut ku hehehe. Untuk selanjutnya, jam sembilan nanti aku menghadiri undangan rapat dari STIFIn Kabupaten Tangerang. 

Kampanye STIFIn, adalah sebuah perjuangan juga. Bagaimana seorang anak bangsa Indonesia, dengan kegigihannya sudah menemukan sebuah konsep alat test, untuk menditeksi "Mesin Kecerdasan" anak-anak Indonesia lainnya, dari sejak usia 2 tahun. Dengan diketahui Mesin Kecerdasan nya sedini mungkin, diharapkan pendidikan yang diberikan dapat mengarahkan anak-anak Indonesia pada kesusksesan dan kemulyaan hidupnya, dengan lebih cepat dan lebih tepat. Hidup SuksesMulia, itulah semboyan seorang Farid Poniman anak Madura, sang penemu mesin kecerdasan yang dinamai STIFIn (Sensing, Thinking, Instuiting, Feeling dan Insting). Tentang STIFIn, akan aku tulis pada lain waktu ya hehehehe.

Selamat pagi saudara-saudara ku, mari kita isi kemerdekaan warisan si Anak Singkong "Kakek Buyut Kita", dengan menggunakan Mesin Kecerdasan kita masing-masing, menuju kehidupan masyarakat Indonesia yang #SuksesMulia. Merdekaaa!!!!

Tangerang, 18 Agustus 2013

AKU TANGGUNG JAWAB SIAPA YA ..............?

Bicara tanggungjawab, biasanya berkonotasi pada biaya kehidupan, biaya sekolah, tabrak lari, kawin lari (setelah menghamili lari hehehe), kecelakaan kerja, dan banyak lagi deh peristiwa-peristiwa, yang terkait dengan tanggungjawab.

Secara adat istiadat, bahkan ajaran agama, perbedaan jenis kelamin (sex) membedakan ruang lingkup tanggungjawab juga "katanya". Laki-laki adalah pemimpin perempuan, maka laki-laki yang memikul tanggungjawab atas perempuan-perempuan. Ada suami bertanggungjawab kepada istri, ada bapak bertanggungjawab pada anak perempuannya, ada laki-laki bertanggungjawab kepada saudara perempuannya.

Bagaimana bentuk tanggungjawabnya? kalau pelaksanaan tanggungjawab itu berdasarkan agama, pake aturan agama, kalau kita melakukannya karena menurut pada adat istiadat, maka pake hukum adat. Tetapi kalau kita mengambil tanggungjawab itu karena kebaikan hati saja, ya suka-suka hati-mu-lah, tergantung moodnya hehehehe.

Dengan demikian melaksanakan tanggungjawab itu mestinya berbanding lurus dengan kesadaran diri setiap orang (baca laki-laki ya) Jika orang itu menyadari, bahwa dia pemeluk agama tertentu, sekaligus anggota masyarakat yang memiliki adat istiadat tertentu, bahkan lebih baik lagi kalau dia juga sadar sebagai warga negara tertentu, maka tidak akan ada kebingungan padanya, untuk melaksanakan tanggungjawab. Karena agama, adat istiadat dan negara punya tata cara, yang bisa menuntun orang untuk melaksanakan tanggungjawabnya dengan benar, sesuai hukumnya.

Pertanyaannya, bagaimana jika ada seorang perempuan dewasa, belum diberi jodoh oleh Allah (karena jodoh, mati, rizki dsb itu yang ngatur Allah bukan?) dia hidup sendiri, menghidupi diri sendiri, bahkan mencoba mengambil alih tanggungjawab laki-laki-orang tuanya dan seluruh saudara laki-lakinya? Tidak ada yang meminta dia melakukan itu, tapi dia tidak pernah betah melihat keadaan yang sulit menjadi tontonan berlama-lama. Ada anak-anak yang harus disekolahkan, dikasih makanan dan minuman, diberi pakaian, dibesarkan dan dididik dengan benar. Ada seorang laki-laki yang kehilangan akal, tidak mungkin dibiarkan menggelandang di jalanan, maka dia harus dirawat, diobati dan direhabilitasi. Jika perempuan ini masih punya bapak dan punya saudara laki-laki, tetapi dia memang tidak mendapatkan pertanggungjawaban itu, sebagaimana yang diajarkan agama, adat dan negara, apakah ada yang salah karenanya?

Terkadang, dalam keadaan "lelah" lahir bathin, aku sering bertanya: AKU INI TANGGUNG JAWAB SIAPA YA.........................? sepiiiiiiiiiiiiii, jawabnya

Aku selalu berharap dan berdo'a kepada Allah, setiap saat, bahwa apa yang aku lakukan, tidak akan menjadi beban bagiku, tetapi sebaliknya menjadi kebahagiaan dalam hidupku. Juga, tidak menjadi kesalahan bagi bapak dan saudara-saudarak lelaki ku, sehingga mereka tidak harus mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah kelak kemudian hari. Aku selalu berfikir, bahwa inilah rencana besar Allah dibalik semua peristiwa hidup yang kualami, bahwa DIA memberikan kesempatan padaku, agar merasakan menjadi orang tua, dan diberi ladang untuk bercocok tanam amal dan ibadah, selama hidupku di dunia.

Ya Robb, bimbinglah pikiran dan hatiku, agar tetap istiqomah dan ikhlas dalam menjalankan pengabdian kepadaMu. Berikan aku rizki yang melimpah, dari bagian kekayaanMu, untuk bekal aku beribadah kepadaMu, untuk bekal aku berbagi tanggungjawab dengan saudara-saudaraku.
Amien 

Tangerang, 6 Agustus 2013
18 Ramadhan 1434 Hijriyah

Bella Ciao - Modena City Ramblers

TIGA HARI MENJELANG BERAKHIR.................

Sudah 7 hari aku tinggal di rumah sendiri, menjalani ritual Ramadhan sendirian ala ku, alakadarnya. Buka dan sahur alakadarnya, seadanya, karena dalam soal makan, puasa dan tidak puasa bagi ku sama saja, hanya persoalan waktu melaksanakannya saja yang berbeda, selebihnya tidak perlu mengada-ada dan mengistimewakannya.
Pada H-4 lebaran, niatnya aku mau berburu "Dahsyatnya Lailatul Qadar" karena aku yakin bagi Allah semuanya bisa dilakukan sesuai kehendakNya. Meski aku ibadahnya juga alakadarnya, tidak getol-getol amat, tetapi tetap berharap dapat anugrah untuk menerima "Keajaiban Lailatul Qodar" karena aku sangat yakin padaNya, pada kebaikanNya dan pada keadilanNya........

Dari siang aku sudah berniat, aku akan melaksanakan sholat isya, tarawih dan ibadah-ibadah lainnya-semampu aku, pada pukul 02.00 - subuh. Tidurlah aku sore-sore, sebelum tidur aku berdoa, ya Allah bangunkan aku pada pukul 02.00 nanti, agar aku punya cukup waktu untuk berdoa panjang dan banyak kepadaMu.

Hups! hah! aku terbangun 03.45, waaaaa, terlambat huhuhuhuhuhuhu, aku langsung ngibrit ke kamar mandi, sambil lewat kuturunkan tombol rice cooker, biar nasi ku panas. Dengan cepat aku ambil wudhu, laksanakan sholat isya, disambung tarawih lengkap dengan  witirnya. Sambil sedih dan menyesal, aku memohon ampun padaNya, bahwa aku tidak menyegrakan waktu sholat dan tarawih ku. Ampuni aku ya Allah, aku selalu dedel untuk mengubah kebiasaan syetan menjadi kebiasaan hamba sholeh, yang ada dalam diri ku. Ya Allah, aku tetap ingin Kau menyayangi aku, karena kalau bukan Engkau siapa yang akan menyayangi ku?

Selesai sholat, pukul 04.00 aku mulai mempersiapkan sahur ku, mengeluarkan dua potong daging ayam dari kulkas, lalu menggorengnya. Sambil menunggu daging ayam mateng, aku mengolesi dua potong roti dengan mentega, dan menaburinya dengan coklat mesis. Aku masih sempat bergumam, ya Allah begitu baiknya Engkau, dengan kebaikan yang tidak bersyarat, telah memberi aku kehidupan yang layak. Aku masih punya nasi, punya daging ayam dan punya roti untuk dimakan, bahkan secangkir teh manis dan beberapa gelas air putih masih bisa aku minum pada waktu sahur.

Maha besar Engkau ya Allah, Maha Kaya Engkau ya Allah, Maha Kasih dan Maha Sayang Engkau ya Allah!
Bimbinglah aku, kendalikan hati ku, pikiran ku, lisan ku, tangan ku, kaki ku, telinga ku, mata ku dan seluruh panca indra ku, hanya untuk melakukan kehendak Mu ya Allah. Amien


Tangerang, 5 Agustus 2013
Akhir Romadhon 1434 Hijriyah

CARI MEREKA, KETIKA HENDAK MEMILIH


Kalau kita membaca atau mendengar kalimat “Amanah” rangkaian kalimat asa selanjutnya pasti pemimpin, padahal kawan ku juga namanya “Amanah”  Kalau yang dimaksud “Amanah” itu adalah sifat yang diharuskan ada pada pemimpin, maka diskriminatif kalau hanya menyebut-nyebut “Amanah” karena masih ada tiga nama penting lagi yang harusnya disebut-sebut dan dibuat populer, seperti mbak “Amanah”  Yaitu “Sidiq” nama kawan ku juga hehehe, “Tabligh” yang ini bukan nama kawan ku, tapi pekerjaan mulia Uje, sewaktu beliau masih hidup. Yang terakhir “Fathonah atau Fathanah” yang beberapa bulan lalu, namanya sempat membuat gempar Indonesia, karena aktifitas investasinya di bidang modeling, daging impor, otomotif dan kecantikan hehehehehe.

Nah nama-nama itu yang harus lekat dengan “pemimpin”, terutama bagi pengikut kepemimpinan Nabi Besar Muhammad SAW. Empat sifat kepemimpinan Rosulallah, yang tidak dipisahkan satu sama lainnya, melainkan semuanya ada dan dilaksanakan oleh Beliau dalam memimpin umat pada jaman pemerintahannya. Dilakukan secara sinergis dan utuh, bahkan sebelum diangkat menjadi Rosul, beliau sudah mendapatkan julukan al Amin. Karena mustahil kalau dilakukan salah satunya atau sebagiannya saja, padahal dengan sifat-sifat itulah beliau memenej pemerintahannya.

Sifat-sifat tersebut, bukan hal yang tabu untuk dimiliki oleh pemimpin setelahnya-pada jaman sekarang, bahkan bagi orang-orang yang berkomitment menjadi pengikut setianya, maka sewajibnya mengikuti jejak langkah kepemimpinannya. Coba saja kita perhatikan, pengertian daripada nama-nama sifat kepemimpinannya tersebut, tidak asing “kan menyerupai nama-nama kawan kita juga bukan? Hehehehe”
  1. Sidiq (Jujur), artinya benar dalam perkataan dan perbuatan. Apa yang diterima dari Allah sebagai wahyunya, itu juga yang disampaikan kepada umatnya sebagai ajaran, tidak ada yang dikurangi dan tidak ada yang dilebihkan. Baik dalam bentuk perkataan maupun dalam bentuk perbuatan yang dicontohkan. Sehingga tidak ada penafsiran yang beda, tidak ada distorsi nilai-nilai kebenaran yang dikandung dalam ajaran Nya.   
  2. Amanah (Amanat) artinya Dipercaya atau dapat Dipercaya. Dapat kita bayangkan jika seorang pemimpin umat adalah penghianat yang suka hianat, maka mustahil seorang Rosul penghianat. Amanah berarti bisa dipercaya, baik lahir maupun bathinnya. Maksudnya sebagai pemimpin umat beliau bisa dipercaya dalam setiap ucapan dan perbuatannya, apa yang diucapkannya itulah yang dilakukannya, atau sebaliknya
  3. Tabligh (Menyampaikan), adalah menyampaikan wahyu atau risalah yang beliau terima dari Allah SWT kepada orang lain. Sudah menjadi kewajiban para pemimpin umat, menyampaikan kebenaran Allah kepada umatnya. Menyampaikan ajaran-ajaran yang benar, yang dapat menyelamatkan umat manusia, di dunia maupun di akhirat kelak.   
  4. Fathonah (Fathanah) artinya Cerdas, pandai atau pintar. Jadi mustahil seorang pemimpin umat adalah orang bodoh dan tidak mengerti apa-apa. Dalam menyampaikan risalah kebenaran, tentu dibutuhkan kemampuan, diplomasi dan strategi khusus, agar risalah kebenaran dan hukum-hukum tentang kebenaran yang disampiakan, dapat diterima oleh umat dengan baik. Oleh karenanya seorang pemimpin harus “Fathonah (Cerdas) Kecerdasan sangat berperan, terutama untuk menghadapi orang-orang yang membangkang dan menolak ajaran kebenaranNya.
Setelah dicermati, ternyata masih relevan bukan, meskipun berbeda jaman dan beda umatnya hehehe. Jadi tidak mungkin sifat-sifat kepemimpinan hanya dipake satu-satu, misalkan “Amanah” saja yang sering disebut-sebut itu. Bisakah seseorang yang tidak jujur (sidiq) bertindak “Amanah”? Mungkin tidak orang yang tidak sidiq, tidak amanah bisa menyampaikan kebenaran (tabligh) dengan utuh, tanpa dikurangi dan dilebihkan informasinya? Kalau dari sifatnya saja sudah tidak sidiq dan tidak amanah, apakah informasi yang disampaikannya benar? Kalau misalkan seseorang itu sidiq, dan amanah, tetapi dia tidak fathanah (bodoh), akankah dia bisa menyampaikan kebenaran dengan baik, padahal umat yang dihadapinya macam-macam, ada yang sudah patuh, banyak yang masih membangkang. Ada kelompok yang mencintainya, banyak juga kelompok yang memusuhinya. Kalau pemimpin tidak cerdas, tidak kuat pikirannya, tidak memiliki strategi yang tepat, apa yang akan terjadi dengan pemerintahannya (umatnya)? Kacauuuuuu! Cau!

Mengingat sebentar lagi kita akan memilih pemimpim, maka ingat ya bukan hanya “Amanah” loh yang harus lengket dengan pemimpin, mas “Sidiq” dan mas “Fathanah” juga harus dipastikan lengket ya, agar pemimpin yang kita pilih nanti, benar-benar penyampai  (Tabligh) kebenaran dan keadilan yang “Sidiq, Amanah dan Fathanah”

Eng ing eeeeeeeeng, selamat PILKADAL, selamat PEMILU dan selamat KONGRES jugaaaaaaa
Merdekaaa!!!

Tangerang, 4 Agustus 2013
Akhir Romadhan 1434 H


AMANAH

  
Amanah, adalah nama seorang kawan perempuan dari aktivis serikat buruh, dia bekerja di sebuah perusahaan sepatu olah raga ber-merk, sebuah pabrik yang berskala raksasa di Indonesia. Buruhnya berjumlah 80 ribu lebih, yang bekerja siang dan malam, selama 24 jam, lengkap dengan sejuta persoalannya.

Amanah sering disebut-sebut oleh kawan-kawan buruh, terutama terkait dengan para pemimpinnya, tapi bukan lantaran dia menjadi selingkuhan para pimpinan serikat buruh loh hehehe. Lebih dikarenakan buruh-buruh di sana sangat merindukan "Amanah" lekat dengan pemimpin mereka. Kaum buruh sering mengeluhkan "ini gara-gara pemimpin kita yang tidak Amanah, makanya nasib kita menjadi buruh kontrak" atau menjadi kerinduan yang tak pernah terpenuhi "kapan ya kita memiliki pemimpin yang Amanah?" demikianlah Amanah selalu lekat dengan pemimpin, dalam harapan dan kerinduan buruh.

Kawanku Amanah, pemilik nama yang indah. Karena Amanah artinya orang yang bisa dipercaya, bukan hanya karena jujur saja, tetapi Amanah adalah orang yang mampu menyampaikan segala hal yang menjadi hak, baik hak Allah maupun hak sesama mahluk, lebih-lebih hak anggota yang sudah mempercayakan (meng-Amanahkan) penyelesaian persoalannya kepada pemimpin yang mereka pilih. Jadi laksanakan "Amanah" itu dengan benar dan jangan menukarkannya dengan uang saku bulanan atau fasilitas nyaman lainnya, yang diberikan manajemen perusahaan.

Nah, kalau saat ini anggota masih mempertanyakan sikap "Amanah" para pemimpinannya, sebetulnya apa yang terjadi? apakah memang kepercayaan anggota itu sudah disalahgunakan, atau "Amanah" nya sudah dilaksanakan, tetapi anggota tidak mengetahuinya dan tidak merasakannya? hehehehehe.

Masih banyak waktu untuk mendekatkan kesenjangan antara melaksanakan "Amanah" tidak diketahui, atau menghianati "Amanah" karena tergoda fasilitas yang ditawarkan. Dengan memperbaiki budaya komunikasi dan meningkatkan intensitas silaturrahmi dengan anggota, semuanya akan menjadi mudah dijelaskan. Sepanjang tidak ada niat dalam hati dan pikiran kita untuk mendustakan kepercayaan anggota, maka pemimpin masih tetap akan "Amanah". Barang siapa yang hatinya kehilangan sifat amanah, maka ia akan menjadi orang yang mudah berdusta dan khianat. Dan siapa yang mempunyai sifat dusta dan khianat, dia berada dalam barisan orang-orang munafik. Audzubillahimindzalik (Sumber: http://www.dakwatuna.com)

Wallahu'alam Bissowab

Tangerang, 3 Agustus 2013
Menjelang Akhir Romadhan 1434 H